
Pekerjaan Hati Mendatangkan Kenikmatan
Dzun-Nun berkata, “Sesungguhnya apabila seorang beriman kepada Allah dan memantapkan imannya, maka ia akan merasa takut kepada Allah. Jika ia merasa takut (khauf) kepada Allah, maka lahirlah harapan (raja’) dari ketaatan. Jika ia mencapai tingkatan harapan, maka lahirlah rasa cinta (mahabbah) dari harapan tersebut. Jika seluruh makna cinta menancap kuat di dalam hatinya, maka ia akan mencapai tingkatan rindu (syauq). Jika ia merasa rindu kepada Allah, maka kerinduan itu akan membuatnya merasa akrab dengan Allah. Jika ia merasa akrab dengan Allah, maka ia akan merasa tenteram dengan Allah. Dan jika merasa tenteram dengan Allah, maka ia akan menjalani malam harinya, siang harinya, kesendiriannya dan keramainnya dalam kenikmatan.”
--------------------------------------------
Sirri As-Saqthi berkata, “Ada lima hal yang tidak bisa digabungkan dengan yang lain: takut kepada Allah semata, berharap kepada Allah semata, cinta kepada Allah semata, malu kepada Allah semata, dan akrab dengan Allah semata.”
Ali bin Abi Thalib berkata, “Hendaklah kamu lebih memperhatikan diterimanya amal daripada amal itu sendiri, karena amal tidak bisa diterima kecuali disertai dengan takwa, dan betapa sedikitnya amal yang diterima.”
Abu Idris Al-Khaulani berkata, “Hati yang bersih di dalam baju yang kotor lebih baik daripada hati yang kotor di dalam baju yang bersih.”
Tuesday, 7 July 2009
~ Mutiara Salafi ~
Posted by NbI @ NuRiHSaN at 11:35 pm 0 comments
Labels: ~ Bekalan Rohani ~
Monday, 1 June 2009
~ Manfa'at Taubat ~
بسم الله الرحمن الرحيم
Taubat dan Hukum-hukumnya:
Taubat adalah meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan pada Allah.
Taubat adalah perkara yang dicintai oleh Allah سبحا نه و تعالى
Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 222 yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
Taubat diwajibkan atas setiap mukmin. Firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 8 yang maksudnya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”
Taubat adalah salah satu jalan menuju keberuntungan. Firman Allah dalam surah An-Nuur ayat 31 yang bermaksud: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Adalah suatu keberuntungan bila seseorang dapat memperolehi apa yang ia cari dan terhindar dari apa yang ia takutkan.
Dengan taubat nasuha Allah سبحا نه و تعالى mengampuni setiap dosa walau bagaimanapun besar dan banyaknya: Firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 53 yang ertinya:
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Saudaraku yang pernah berbuat dosa, janganlah engkau putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya pintu taubat senantiasa terbuka hingga matahari terbit dari arah barat. Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari dan Dia membentangkan tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR Muslim)
Berapa banyak orang yang bertaubat dari dosa yang menumpuk yang telah diampuni oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Furqan ayat 68-70, yang maksudnya:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Taubat nasuha adalah taubat yang memenuhi lima syarat:
* Pertama: Ikhlas kepada Allah Ta’ala, yakni tmbulnya rasa ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah Ta’ala, pahalaNya dan keselamatan dari azabNya.
*Kedua: Menyesali semua perbuatan maksiat, yakni sedih atas perbuatannya dan berharap seandainya dia tidak melakukannya.
*Ketiga: Meninggalkan semua maksiat saat itu juga. Jika berhubungan dengan hak Allah maka ia akan meninggalkannya segera jika hal itu merupakan perkara haram, dan dia akan segera melaksanakannya jika ia meninggalkan perkara wajib.
Sementara apabila hal itu berhubungan dengan hak makhluk, hendaklah dia bersegera untuk membersihkan diri darinya, baik dengan mengembalikan hal itu atau meminta kelonggaran dan keikhlasannya agar yang bersangkutan menghalalkannya baginya.
*Keempat: Bertekad untuk tidak kembali melakukan maksiat tersebut di kemudian hari.
*Kelima: Melakukan taubat sebelum habis masa terkabulnya, baik ketika ajal menjemput atau ketika matahari terbit dari arah barat.Allah berfirman dalam surah An-Nisaa’ ayat 18 yang ertinya: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’”
Dan Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda yang bermaksud: “ Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR Muslim)
Yaa Allah berikanlah kami taufiq menuju taubat nasuha dan terimalah amal kami sesungguhnya Engkau Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.
(Fatawa Islamiyah juz II)
[Ditulis oleh Muhammad bin Solih al-Utsaimin. Pada 17/4/1406 H]
Posted by NbI @ NuRiHSaN at 5:54 pm 0 comments
Labels: ~ Fiqh Dan Ibadah ~
Tuesday, 12 May 2009
~ Setinggi Cita Wanita Perindu Syurga ~
بسم الله الرحمن الرحيم
- Bercita-cita tinggi merupakan Karekter Islam – Bhg 2
Cita-cita tinggi akan mengantar sseseorang pada kebaikan tanpa dikurangi –dengan izin Allah Ta’ala. Berhias dengan cita-cita tinggi akan menghalangi seseorang dari angan-angan dan perbuatan hina,dan mencegah dari jurang kehinaan,kerendahan dan kemalasan.
Inilah pentingnya bercita-cita tinggi agar cita-cita tinggi itu benar-benar menjadi reputasi sesorang wanita shalihah. Jadi meskipun dalam waktu luang, ia tetap berada dalam petunjuk Nabi صلى الله عليه و سلم dan tidak berada dalam jurang kehinaan.
Faktor-Faktor Penting Bagaimana Meninggikan Cita-Cita dan Mengantisipasi Agar Sebuah Cita-Cita Tidak Menjadi Lemah
1. Ilmu dan Pengetahuan: Seorang muslimah setiap kali bertambah ilmunya, maka akan bertambah pula pemahamannya terhadap kehendak Allah سبحا نه و تعالى dan menjadi tinggi cita-citanya. Ilmu akan meningkatkan cita-cita seseorang, menyelamatkan penuntutnya dari lembah kehinaan, serta menjernihkan niat.
Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umar berkata, “Setiap kali ilmu syar’i yang dimiliki seorang muslim lemah (sedikit), maka akan banyak peluang baginya untuk mudah tertimpa hal-hal yang membuatnya lemah. Hal tersebut disebabkan oleh kebodohannya terhadap dalil-dalil syar’i yang dapat memotivasi seseorang untik beribadah, memiliki ilmu dan menggalinya."
2. Menginginkan Akhirat dan Ingat Mati: Agar wanita muslimah mempunyai cita-cita tinggi menuju Allah سبحا نه و تعالى, hendaklah ia menyatukan segala cita-citanya hanya tertuju kepada akhirat dan yang menjadi tujuan hidupnya adalah pokok cita-cita itu, demikian pula ia menjadikan hal tersebut sebagai pandangan hidupnya, bahkan menjadi hidupnya yang sebenarnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS: Al-Israa’: 19)
Hendaklah seorang muslimah meningkatkan cita-citanya terhadap Allah dan seyogianya ia memperbanyak mengingat kematian, kerana itu dapat memotivasi dirinya untuk banyak beramal shalih, menjauhi negeri yang penuh tipuan (dunia), menginstrospeksi diri, memperbaiki taubat dan membangun tekad untuk tetap isitqamah.
3. Memohon Kepada Allah Agar Diberi Cita-cita yang Tinggi: Sungguh amat jelas bagi orang-orang yang berakal bahwa doa mempunyai posisi penting dalam Islam. Doa merupakan ibadah yang paling agung, kerana dengan berdoa membuktikan bahwa seorang hamba itu benar-benar lemah dna butuh kepada Allah. Dengan berdoa, ia mengembalikan segala urusannya kepada Dzat penciptanya, ia merendahkan diri di hadapan Allah, dan meminta keperluannya dengan harap dan cemas. Oleh kerana itu doa memiliki pengaruh yang amat besar terhadap ruhani ssesorang dan fitrahnya.Itulah puncak ketinggian sebuah ibadah serta tujuannya.
4. Berpindah Dari Lingkungan yang Mengendurkan Semangat: Tidak dinafikan bahwa lingkungan yang ada disekeliling manusia mempunya pengaruh terhadap jasmani. Jika lingkungan itu mengendurkan semangat, menyebabkan kemalasan, kelemahan dan membuatnya melakukan tindakan yang sia-sia, maka seseorang harus menjauhi lingkungan tersebut.
Yang sangat diperlukan oleh seseorang agar dapat memperbaiki lingkungan dan meninggikan cita-citanya adalah segera bertaubat. Dengan jalan itulah hatinya boleh bersatu kembali, kualitaasnya membiak dan cita-citanya berpadu sehingga ia dapat menghadapai pola hidup baru dengan kejujuran dan tekad yang mulia.
5. Sabar dan Menyabarkan Diri: Jalan untuk menuntut ilmu, beribadah dan menyeru manusia kepada Allah adalah jalan yang amat sulit lagi sukar. Dikellilingi banyak ujian dan kesulitan.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (QS: Ali Imran: 142)
“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka.” (QS: A-Qashash: 54)
Kerana sifat sabar memiliki pengaruh yang besar akan keteguhan seseorang dalam menapaki sebuah jalan, menjaga diri agar tidak tergelincir, menyimpang, tergesa-gesa dan lemah.
Sekiranya kesabaran tidak mengantarkan sesorang kecuali pada tingkat kecintaan, maka itu sudah cukup sebagai sebuah kemuliaan, serta perolehan yang amat agung.
6. Berteman dengan orang-orang yang bercita-cita tinggi dan menelaah kisah-kisah mereka: Sesungguhnya faktor paling dominan yang dapat meninggikan sebuah cita-cita adalah; apabila seorang muslimah beteman dengan muslimah lainnya yang memiliki kesungguhan dalam beribadah, menuntut ilmu dan beramal. Senantiasa memperhatikan nasihat-nasihatya lalu mengikutinya. Meniru serta mengikuti jejak para wanita mulia juga dapat menguatkan tekad seorang muslimah.
Menghayati dan menelaah kisah para wanita shalihah dapat mengasah cita-cita orang-orang yang malas,juga dapat menggerakkan tekad mereka kepada kesungguhan. Sesungguhnya, apabila sesoerang melihat temannya mengunggulinya dalam soal ibadah, kezuhudan, kebudayaan dan perilakunya, biasanya hal itu akan memberi pengaruh terhadap dirinya, inilah tabiat jiwa manusia.
7. Menetapkan target dalam meraih cita-cita tinggi: Tidak ada tujuan yang paling mulia dan agung melainkan meraih ridha Allah سبحا نه و تعالى dan jannahNya.
Usaha untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi akan menghadiahkan kepada seseorang tiga perkara –dengan izin Allah -:
1. Derajat yang tinggi di akhirat
2. Teguh di jalan yang benar
3. Sebutan dan sanjungan yang baik sesudah kematian, berupa doa dari orang-orang shalih serta permintaan ampunan dari orang-orang yang meminta ampun.
Ketahuilah! Sekiranya tujuan anda tercapai sementara itu adalah tujuan yang agung dan tinggi, sungguh anda telah meraih keberuntungan yang besar dan agung.
Wallahul Muwaffiq
[Dipetik dari buku “Setinggi Cita Perindu Surga” buah karya Isham bin Muhammad Asy-Syarif, Terbitan Pustaka At-Tibyan, Disember 2007]
Posted by NbI @ NuRiHSaN at 6:45 pm 0 comments
Labels: ~ Bekalan Rohani ~
