MENGENAL INDAHNYA ISLAM...

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Wednesday, 15 April 2009

~ Cita-Cita Tinggi ~

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“ Cita-cita tinggi adalah cita-cita yang tidak ditujukan kecuali hanya kepada Allah, dan tidak bisa ditujukan kepada selainNya. Ia tidak rela bila digantikan oleh selain Allah, ia juga tidak menggantikan rasa andilnya terhadap Allah kepada hal-hal rendah dan fana, ia hanya akan mendekat, senang,gembira, bahagia, dan suka kepadaNya. Cita-cita tinggi ibarat burung yang terbang di atas sekumpulan burung-burung, ia tidak rela sayapnya terlukai, sehingga ia tidak terkena bahaya sebagaimana yang menimpa burung-burung lainnya.

Sesungguhnya ‘sebuah cita-cita’ bila semakin tinggi, maka bahaya akan sulit untuk menimpanya. Tetapi bila cita-cita itu rendah, maka berbagai macam bahaya mudah datang dari setiap arah. Dan sesungguhnya bahaya merupakan penghalang dan penghadang. Sekali-kali ia tidak akan mengantarkan seseorang kepada puncak yang tertinggi, ia hanya akan menyeret ke tempat yang bawah dan hina. Cita-cita tinggi seseorang dapat dilihat dari adanya keberuntungan bagi dia, sementara cita-cita rendah seseorang dapat dilihat dari tidak adanya kemenangan yang didapat. “ [Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim, III/171-172]

Wednesday, 8 April 2009

~ Jadilah Penyeru Kebaikan ~

Bagaimanakah perasaan seseorang yang engkau beri bantuan kewangan, atau engkau beri hadiah yang berharga, atau engkau beri kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan?...atau engkau lakukan kebaikan dunia apapun terhadap mereka.

Tentu ia tidak akan melupakan kebaikanmu seumur hidup, ia akan selalu mengingatmu pada setiap waktu dan kesempatan!

Lalu, bagaimanakah respon mereka ketika engkau berikan kepada mereka “hadiah” yang sangat besar nilainya, kebaikan yang sangat berharga, dimana manfaatnya akan selalu ia rasakan tidak hanya di dunia ini saja, namun sampai di akhirat kelak dan ketika bertemu dengan Tuhannya, bahkan menjadi sarana yang menghantarnya masuk surga, atau tangga yang menghubungkannya mencapai surga Firdaus yang paling tinggi dengan izin Allah?!!

Ketahuilah,”hadiah agung” tersebut adalah seruan kepada seseorang untuk mengikuti risalah Allah di muka bumi. Menyadarkannya akan tujuan manusia diciptakan di bumi, mengajarkannya cara memenuhi kewajiban, mengenalkan kepadanya akhlak yang mulia, mengarahkannya untuk melakukan amal shalih, menjauhkannya dari maksiat, dan menyelamatkannnya dari kekafiran, jika ia non muslim.

Kemudian apa yang akan engkau rasakan, ketika melakukan tugas mulia ini, lalu engkau melihat hasilnya yang dengan sebab dirimu ia mendapatkan hidayah atau mendapatkan pendidikan?

Bukankah engkau akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara, kegembiraan yang tak terkira, keceriaan yang memukau dan kenyamanan yang tak tergambarkan?

Semua ini akan memotivasi setiap muslim dan muslimah untuk menjalani kewajiban yang agung ini, untuk membagikan “hadiah” yang termahal tersebut kepada orang-orang yang berada disekitarnya secara cuma-cuma tanpa mengharap balasan maupun imbalan apapun…baik untuk orang-orang non muslim dengan menghantarkannya kepada hidayah Islam. Sedangkan untuk orang-orang muslim dengan memberikan bimbingan dan nasehat!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang bermaksud, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang menyerah diri?” (QS.Fushilat: 33)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bahwa Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dirimu, sungguh hal itu lebih baik dari pada engkau memiliki unta merah.” (HR Bukhari & Muslim)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa menyeru kepada kebaikan – hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, yang hal itu sama sekali tidak mengurangi pahala mereka sama sekali,” (HR Muslim)

Jika engkau telah rela menjadi salah satu personil yang memanggul pemantik cahaya dan hidayah ini, maka tidaklah penting bagi anda untuk menjadi seseorang yang mampu menyampaikan materi atau makalah, tidak juga harus menjadi orang yang mampu mengarang buku, tidak juga untuk menjadi orang yang mampu berceramah, akan tetapi engkau bisa dan mampu melaksanakan tugas ini dengan berbagai sarana dengan usaha sekecil apapun, dan anda mampu melakukannya setiap saat.

Jika demikian halnya, maka marilah kita berlomba-lomba untuk menunaikan tugas para nabi, para rasul, dan orang-orang terpilih, agar kita berbahagia di dunia dan di akhirat, juga untuk membahagiakan orang-orang yang melalui perantaraan kita mereka dapat masuk Islam dan mendapatkan hidayah. [Petikan dari buku ‘Melejit Potensi Diri’ oleh Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aidan, ms 174-177]

Thursday, 2 April 2009

~ Anjuran Melaksanakan Qiyamul Lail ~

Umar bin Dzar berkata, “Ketika para ahli ibadah melihat malam telah menyergap mereka dan memandang para ahli kemalasan dan kelalaian telah menuju tempat tidur mereka, lalu menikmati pembaringan dan tidurnya, maka mereka (para ahli ibadah) justru bangkit menghadap kepada Allah dengan suka cita dan riang gembira dengan ibadah yang baik di penghujung malam dan tahajjud yang panjang. Mereka menyambut malam dengan badan mereka dan menyongsong kegelapannya dengan wajah mereka. Kemudian malam pun berlalu meninggalkan mereka, namun kelezatan yang diperolehinya dari membaca Al-Quran tidak ikut berlalu dan badan mereka pun tidak jemu melaksanakana ibadah yang panjang.

Ketika pagi hari tiba dua golongan itu ditinggalkan oleh malam dengan keuntungan dan kerugian. Golongan yang satu menyambut pagi dengan perasaan jemu akibat tidur dan istirahat. Sedangkan golongan yang lain menyambut pagi dengan kerinduan akan datangnya malam untuk beribadah. Dua golongan itu amat sangat jauh berbeda. Jadi, berbuatlah untuk dirimu sendiri di tengah malam yang gelap gulita ini. Sebab, orang yang merugi adalah orang yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan malam dan siang, dan orang yang melarat adalah orang yang terhalang dari kebaikan malam dan siang.

Sesungguhnya siang dan malam itu dijadikan oleh Allah sebagai media bagi orang-orang yang beriman untuk taat kepada Rabbnya, dan sebagai malapetaka bagi orang-orang yang tidak beriman untuk melalaikan penyesalan mereka. Maka, hidupkanlah Allah di dalam dirimu dengan mengingatNya, kerana hati hanya bisa hidup dengan mengingat Allah.

Betapa banyak orang yang tidur pada malam ini dan mereka akan merindukannya untuk bangun beribadah ketika berada di dalam kegelapan liang kuburnya. Dan betapa banyak orang yang tidur pada malam-malam ini akan menyesali tidurnya yang panjang ketika kelak ia melihat kemurahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang tekun beribadah. Jadi, manfaatkanlah perjalanan waktu malam dan siang dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah menyayangi anda.” [1000 Hikmah Ulama Salaf]